Berita  

Usai Korbankan Dua Usaha Dukung Program MBG, Kini “Ditendang” Dari Yayasan.

Oplus_16908288

KALABAHI, metroalor.com – Mantan Bendahara Yayasan Abdi Mulia Sejahtera (AMS) Aisyah Bahweres kembali ungkit perjalanan awal ketika bergabung di Yayasan AMS.

Menurutnya, awal berdirinya yayasan AMS mulai dari perencanaannya, pembangunan Dapur MBG Alor, Ia juga menjadi salah satu Orang yang ikut andil dalam yayasan dan pembangunan dapur tersebut , demikian disampaikan kepada Wartawan di Kupang, Rabu, 20/8/2025.

Setelah Pilkada Alor (2024–2029),,kisa Aisyah , kami melakukan komunikasi awal dengan Pembina AMS, Gabriel Beribina (Pak Gab) dan Ketua Yayasan Mulyawan Djawa, dalam komunikasi tersebut , keduanya minta Dirinya ikut bergabung dalam program sosial Dapur MBG, dan kemudian dalam prosesnya dipercayakan sebagai bendahara yayasan ,karena punya pengalaman Kelolah café. Selanjutnya dari diskusi itu, dilakukan survei titik lokasi Dapur MBG , dan saat itu titik ditentukan di bahagian belakang rumah tinggalnya di kelurahan Wetabua .

Dimulai dengan perencanaan dengan taksasi biaya 1,3 Milyar dan pembangunan harus selesai pada 3 Januari 2025. Namun ,pembangunan dan jangka waktu yang sempit maka kita cari alternatif lain

Dengan alternatif berikutnya adalah lahan tempat usaha batako di Kadelang,kelurahan Kalabahi Timur, karena telah ada infrastruktur diantaranya gudang, area packing, dan tenaga listrik tiga fase (16.600 watt)Semua fasilitas mulai dari bangunan, sumur bor hingga pagar semuanya dibangun atas uangnya dari tujuh tahun lalu meski lahan bukan miliknya.

Karena keterbatasan modal yayasan, Aisyah menutup Cafenya untuk mengambil bebet material untuk renofasi dan lengkapi dapur.

” Saya terpaksa tutup dua usaha yakni cafe dan usaha pembuatan batako dimana investasi awalnya di atas Rp 100 juta”, tandasnya.

Walau jabatan sebagai bendahara yayasan, tapi perannya jauh lebih besar, mulai dari menyusun rancangan, mengusahakan pinjaman, menjalankan dapur sejak hari pertama tanpa uang muka, hingga mengelola pelaporan biaya dengan bukti lengkap.
Dana yayasan yang diterima awal sebesar Rp 245 juta pada 17 Februari 2025 dan pencairan kedua di bulan April mulai rumit pasalnya pengelolaannya dialihkan ke rekening virtual yang dikuasai SPPG (Satuan Pelayanan Pembangunan Gizi), bukan ke rekening yayasan di BRI.

Aisyah menegaskan bahwa uang itu bukan milik pribadi Ketua atau Pembina yayasan, melainkan dana yayasan bersumber dari pinjaman yang ia fasilitasi sedangkan kontribusi personal Pembina yayasan hanya Rp 6 juta lebih untuk pembuatan akta notaris. Namun saat ini muncul tudingan bahwa ada dana dari yayasan 1.M belum dipertanggungjawabkan, ini kan aneh ujarnya .

Soal lahan dalam perjanjian lisan tanpa tertulis tanpa ada jangka waktunya juga , karena masih ada hubungan keluarga ,dan lahan tersebut belum dipakai oleh pemiliknya sehingga perjanjian secara internal .

“Kalau nanti mama Ais sudah tidak pakai, anak saya akan pakai, kata pemilik lahan” , ujar Aisyah.

Namun sekarang dapur MBG sudah berjalan dengan baik namun kini “ditendang” dari jabatan bendahara .(wanka)