KALABAHI, metroalor.com – Pekerjaan pembangunan dua unit gedung baru Ruang Kelas Belajar (RKB) di SD GMIT Biakbuku, Desa Wakapsir, Kecamatan Abad Selatan, Kabupaten Alor, hingga kini terhenti total. Para pekerja (tukang) bahkan telah meninggalkan lokasi proyek sejak lebih dari satu bulan lalu.
Kepala SD GMIT Biakbuku, Ekner Maumutang, S.Pd.Gr.,kepada media ini mengungkapkan, aktivitas pekerjaan sudah tidak berjalan sejak 10 Maret 2026.
“Sudah satu bulan lebih tukang tidak kerja dan meninggalkan lokasi. Mereka pulang, sementara pekerjaan gedung ini masih banyak yang belum selesai,” ungkap Ekner kepada wartawan, Selasa (7/04/2026).
Menurut Ekner, pekerjaan terakhir yang dilakukan hanyalah pemasangan plafon teras salah satu ruang belajar. Setelah itu, pekerjaan terhenti karena kehabisan material seperti semen dan bahan lainnya.
Anehnya, informasi di media sosial proyek tersebut telah memasuki tahap Provisional Hand Over (PHO), padahal kondisi fisik bangunan belum mencapai 100 persen.
“Ini yang membuat kami ragu. Kalau kerja proyek ini harus benar-benar diselesaikan, bukan asal-asalan. Apalagi akses jalan ke lokasi cukup sulit,” tegasnya.
Nilai kontrak proyek tersebut mencapai sekitar Rp399 juta atau hampir Rp400 juta. Namun, hingga kini masih terdapat banyak item pekerjaan yang belum diselesaikan, di antaranya plesteran dinding, acian, lantai kasar, pemasangan keramik, plafon, hingga pengecatan seluruh bangunan.
Ekner juga menegaskan agar kontraktor pelaksana, Osia Alomau dari CV. Maharani Kupang, bertanggung jawab penuh menyelesaikan sisa pekerjaan.
Sementara ,kondisi gedung lama SD GMIT Biakbuku dilaporkan mengalami kerusakan cukup parah, mulai dari dinding, lantai, plafon hingga atap.
Pihak sekolah berharap agar pembangunan gedung baru segera diselesaikan demi menunjang kegiatan belajar mengajar.
“Kami sangat berharap dua gedung ini cepat diselesaikan agar bisa digunakan,” tutup Ekner.
Informasi yang dihimpun metroalor.com di lapangan terungkap, persoalan proyek ini tidak hanya pada fisik bangunan yang mangkrak. Sejumlah kewajiban seperti pembayaran material lokal, upah tukang, hingga biaya transportasi mobilisasi material juga diduga belum dilunasi.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Yeri Makena, saat dikonfirmasi membenarkan adanya keterlambatan pada sejumlah proyek pembangunan sekolah yang bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU) Tahun Anggaran 2025, termasuk SD GMIT Biakbuku.
Menurutnya, progres pekerjaan di lokasi tersebut baru mencapai sekitar 70 persen, sementara kontraktor telah mencairkan dana hingga 50 persen dari nilai kontrak.
“Mereka sudah ambil uang sekitar 50 persen, yakni Rp119 juta tahap pertama dan Rp79 juta tahap kedua. Sisanya masih ditahan,” jelas Yeri.
Ia menambahkan, keterlambatan tersebut telah dikenakan denda sekitar Rp17 juta yang dipotong langsung dari rekening kontraktor.
Namun demikian, pihaknya belum memastikan kelanjutan pekerjaan karena material yang dijanjikan kontraktor hingga kini belum terkonfirmasi keberadaannya di lokasi.
Secara keseluruhan, Yeri mengungkapkan bahwa dari 66 proyek sekolah yang didanai DAU 2025, total denda keterlambatan mencapai Rp426 juta lebih.
“Sebagian besar proyek memang sudah selesai progres fisiknya melebih termin uang atau pencairan dana poyek tetapi ada juga yang masih tertinggal,” ujarnya.. ***(wanka)













