Sosbud  

Kurang Lebih 20 Anak Ikut Khitanan Masal Di Halaman Greja Ebenhezer Apuri

Pura, metroalor.com- Dalam rangka menuju Perayaan 100 Tahun Injil Masuk Pulau Pura di Kabupaten Alor , pada 10 Juni di awali dengan khitanan masal pada Jumad (19/5/2023) .
Panitia 100 Tahun Injil Masuk Pulau Pura pada 10 Juni 2023 yang diketuai oleh Melianus Atakay,S.ST.,MT., Di dukung oleh olah beberapa kader antara lain, Osias Gomang Ani,SE.,MM., Yustus Dopong Abora,SP., dan Christian Djahila,ST .

Seperti pantauan media kegiatan Sunat Massal yang didukung Pemerintah Kabupaten Alor melalui Bagian Kesra Setda Kabupaten Alor yang dipimpin Yunindiawati Laba ini berlangsung di halaman Gereja Ebenhaizer Apuri, Purawetang, Desa Maru Kecamatan Pulau Pura. Acara diawali dengan prosesi adat yang melibatkan tokoh masyarakat, tokoh adat dan tokoh agama, baik Kristen maupun Islam.
Kurang lebih 20 anak, yang terdiri dari 12 perempuan dan delapan laki-laki yang mengikuti sunatan massal dibawa “Berbagi Kasih Adalah Wujud Nyata Kepedulian Sesama”. Sedangkan sub thema: “Dengan sunatan massal kita tingkatkan kualitas iman dan persaudaraan sebagai wujud nyata kerukunan umat beragama di Pulau Pura dalam bingkai Tenang Eli, Mulenoa, Tominu-Tahanu Hur Nu Dal Nu Purawetang.

Hadir mewakili Bupati Alor, Drs.Amon Djobo,M.A.P yakni Asisten I Setda Kabupaten Alor, Ridwan Nampira,S.Sos., dan dua Staf Ahli Bupati Alor, Ketua Majelis Klasis GMIT Alor Barat Laut, Pdt.Simon Petrus Amung,S.Th, para Imam Masjid, Kadis Pariwisata Kabupaten Alor, Ripka Jayati,S.Sos.,M.Si, Camat Abal, Djakaria Djawa,S.Sos., dan unsur Tripika, serta masyarakat Pulau Pura.

Asisten I Setda Kabupaten Alor, Mohammad Ridwan Nampira dalam sambutannya menyampaikan permohonan maaf dan terima kasih kepada Panitia 100 Tahun Injil Masuk Pulau Pura yang telah berjerih lelah mempersiapkan berbagai kegiatan, termasuk sunatan massal sebagai bagian dari rangkaian kegiatan memperigati 100 tahun Injil Masuk Pulau Pura.


Ridwan menilai kegiatan itu merupakan bukti nyata bahwa masyarakat Pulau Pura tidak terpengaruh dengan isu-isu intoleran.

Masyarakat Pulau Pura, kata Ridwan, adalah masyarakat selalu menjunjung tinggi nilai – nilai budaya serta menjalin hubungan baik diatara sesama, dengan tidak membedakan suku, ras, dan agama. Menurutnya, sunatan dari pandangan Islam adalah merupakan bagian dari syariat Islam, yang diyakini dan wajib hukumnya. Fungsi khitan, jelas Ridwan, untuk mempermudah maupun maupun mempercepat proses pembersihan fisik sabagai salah satu syarat sahnya dalam beribadah.

Menurut Ridwan, sunat massal yang dilakukan di halaman Gereja Ebenhaizer Apuri, Desa Maru, Pulau Pura ini bukanlah hal asing bagi masyarakat setempat karena kehidupan toleransi antar umat beragama ini sudah ada sejak dahulu kala, dan itu terwariskan sampai sekarang.
“Sunatan Massal biasanya diselenggarakan oleh umat muslim di masjid, rumah adat, fasiltas-fasilitas kesehatan dan rumah penduduk. Namun hari ini kita menyaksikan sesuatu yang luar biasa, yakni sunat massal yang diselenggarakan oleh saudara-saudara kita non Muslim dan pelaksanaannya di seputaran halaman Gereja Ebenhaizer Apuri. Kami berharap, kegiatan ini

Camat Pulau Pura, Djakaria Djawa, S. Sos dalam sapaannya menyampaikan terima kasih atas kehadiran semua pihak dalam menyukseskan kegiatan Sunatan Massal. Menurut Djakaria, setelah Sunatan Massal, akan diikuti dengan kegiatan Baptis Massal dan Nikah Massal.
Prosesi Sunatan Massal menurut Djakaria sebagai suatu kebanggaan, karena selain sebagai proses pembersihan yang merupakan bagian dari iman, juga merefleksikan hubungan persatuan dan kesatuan yang diwariskan leluhur.

Hikma Khitanan yang disampaikan oleh Ustad Raspa Laa,S.Ag. bahwa ,Sunat itu, kisah Raspa, dulu ditakuti karena berpikir orang potong pake kelewang. Tapi saat ini semua dilakukan dan didampingi Modung dan tenaga media, kata Ustad Raspa.

“Sunat itu perintah agama, terlepas dari latar belakang yang memfasilitasi dalam rangka 100 Tahun Injil masuk di Pulau Pura. Ini perintah jadi jangan halangi anak-anak dengan hal-hal budaya karena paman belum beli tikar dan bantal.
Orang tua itu hanya melahirkan anak-anak, tetapi anak itu amanah dan titipan Tuhan, maka diperlakukan sesuai perintah Tuhan,”tandas Ustad Raspa.
Jadi, lanjut Raspa, bukan sekali berdoa belum terkabul lalu pergi ke dukun, lalu dukun minta beras merah, ayam merah, dan kaca mata merah. Menurutnya, setelah doa dikabulkan Tuhan, maka anak-anak harus diperhatikan dan dididik secara baik sebagai bagian dari pertanggungjawaban atas amanah dari Tuhan. Ia menekankan, bahwa pendidikan anak bukan hanya tugas lembaga pendidikan formal, tetapi juga peran orang tua yang menjadi dasar.

Di Akir dari kegiatan tersebut, ketua panitia 100 tahun Injil masuk pulau pura Melianus Atakay,S.ST.,MT bersama salah satu tokoh adat Pulau Pura, Musa Dadi Huma menyampaikan ungkapan hati dan terima kasih kepada 20 anak yang dikhitan serta muding dan paramedis yang telah melaksanakan sunatan massal tersebut.
Mellianus Atakai dan Musa Dadi dalam bahasa adat mengucapkan terima kasih kepada para orang tua, yang telah mengiklaskan anaknya untuk disunat.
“Tadi malam 12 anak perempuan telah dikhitankan di Timuabang dan pagi hari laki-laki 8 orang dikhitankan di sini, (halaman Gereja Ebenhaizer Apuri) . Dari 20 orang anak yang disunat ini, ada dua anak laki-laki yang beragama Kristen dengan alasan tertentu, dan merupakan suatu pelajaran baru bagi kita semua. Terima kasih kepada Bapak Jomudin dan sahabat-sahabat, dokter dan paramedis yang telah turut ambil bahagian dalam pelayanan khitanan ini,”sebut Atakay.***

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *